Perubahan Gaya Hidup dapat Mengerem Perubahan Iklim

Feature photo by pexels

Jangan makan daging, kendarai sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat — itulah bagaimana Anda dapat membantu mengerem pemanasan global.

Pernyataan di atas dikemukakan oleh Rajendra Pachauri, ketua dari panel perubahan iklim PBB yang juga pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2007.

Laporan tahun 2007 yang dirilis oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) lebih menyoroti masalah “pentingnya mengubah pola hidup,” kata Rajendra Pachauri dalam sebuah konferensi pers di Paris.


Rajendra Pachauri (kanan) bersama Al Gore dalam acara penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2007 (sumber: royalcourt.no)

“Ini adalah sesuatu yang takut untuk diucapkan oleh IPCC beberapa waktu yang lalu, tetapi kini sudah saatnya kami harus mengatakannya. Kurangilah konsumsi daging— daging benar-benar komoditas penghasil karbon yang signifikan,” katanya, menambahkan pernyataan sebelumnya bahwa konsumsi daging dalam jumlah besar juga buruk bagi kesehatan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa menghasilkan 1 kg daging akan menghasilkan 36,4 kg emisi karbon dioksida. Sebagai tambahan, pemeliharaan dan transportasi yang digunakan untuk menghasilkan sepotong daging sapi atau kambing tersebut membutuhkan energi dalam jumlah yang sama untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama tiga minggu.


Pemeliharaan dan transportasi yang digunakan untuk menghasilkan sepotong daging sapi atau kambing tersebut membutuhkan energi dalam jumlah yang sama untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama tiga minggu

Sambil menyebutkan hal-hal yang bisa dilakukan perorangan untuk melawan pemanasan global, Pachauri memuji sistem komunal, dan akses sepeda berlangganan di Paris dan kota-kota lain di Perancis sebagai perkembangan yang sangat hebat.

“Daripada mengendarai mobil hanya untuk menempuh jarak 500 meter, kita dapat menggunakan sepeda atau berjalan kaki dan itu akan menghasilkan perbedaan yang sangat besar,” katanya kepada jurnalis-jurnalis yang menghadiri konferensi pers tersebut.


Daripada mengendarai mobil hanya untuk menempuh jarak 500 meter, kita dapat menggunakan sepeda atau berjalan kaki dan itu akan menghasilkan perbedaan yang sangat besar

Rajendra Pachauri

Perubahan pola hidup lain yang dapat berkontribusi dalam perlawanan terhadap pemanasan global adalah dengan tidak membeli barang hanya karena mereka tersedia. Dia meminta agar konsumen membeli hanya barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan.

Sejak penganugerahan nobel kepada IPCC dan mantan wakil presiden Amerika Serikat Al Gore pada Oktober 2007, Pachauri telah berkeliling dunia untuk memperingatkan bahaya pemanasan global kepada dunia.

Sumber: http://www.abc.net.au/news/2008-01-16/lifestyle-changes-can-curb-climate-change-ipcc/1013982

Usaha Mengurangi Pemanasan Global

Feature photo by Ian Turnell from Pexels

Setelah kamu mengetahui dampak pemanasan global bagi kehidupan manusia dan bumi, kamu juga perlu mengetahui usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemanasan global. Setidaknya ada tiga usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi pemanasan global, yaitu mengurangi konsumsi daging, melakukan penanaman pohon, dan mengurangi emisi karbon.

Mengurangi Konsumsi Daging

Salah satu penyebab pemanasan global adalah pelepasan gas metana (CH4) ke atmosfer yang banyak terjadi di peternakan dalam bentuk kotoran hewan ternak. Menurut laporan PBB tahun 2006, industri peternakan menyumbang 18% dari pemanasan global. Mengurangi konsumsi daging dapat mengurangi pelepasan gas metana dari produksi hewan ternak ini.

Melakukan Penanaman Pohon

Tanaman hijau menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringan melalui proses fotosintesis. Pohon juga dapat mengurangi penguapan air ke udara sehingga air akan lebih banyak terserap ke tanah. Dengan semakin banyak tanaman, keseimbangan CO2 di atmosfer akan tetap terjaga dan dapat menghindari efek pemanasan global lebih lanjut. Gerakan menanam pohon juga sedang banyak digiatkan dan dipopulerkan agar lebih banyak orang yang mau menanam pohon.

Mengurangi Emisi Karbon

Emisi karbon banyak terjadi oleh asap pabrik dan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Karena banyak pembangkit listrik yang mengeluarkan gas karbon, menghemat penggunaan listrik juga dapat mengurangi emisi karbon. Usaha-usaha untuk mengurangi emisi karbon di antaranya adalah:

  • Menggunakan alat transportasi yang tidak menggunakan bahan bakar fosil
  • Mengembangkan pembangkit listrik yang menggunakan energi alternatif
  • Menggunakan alat transportasi masal atau angkutan umum

Referensi:

Bob Foster, Akselerasi Fisika SMA/MA Kelas XI, Penerbit Duta

Dampak dari Pemanasan Global

Feature photo by pexels

Beberapa dampak dari pemanasan global di antaranya adalah perubahan iklim (iklim/cuaca yang menjadi tidak stabil), meningkatnya level (permukaan) air laut, dan gangguan ekologi.

Iklim Menjadi Tidak Stabil

Iklim yang menjadi tidak stabil telah diungkapkan oleh NASA yang menyatakan bahwa pemanasan global menimbulkan efek pada perubahan cuaca dan iklim bumi yang semakin ekstrim. Hal ini dapat dilihat dari pola curah hujan yang berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat, tetapi kekeringan di tempat yang lain. Topan dan badai tropis baru akan bermunculan dengan kecenderungan semakin lama semakin kuat.

Tanpa diperkuat oleh pernyataan NASA di atas pun kamu dapat melihat tanda-tanda perubahan iklim dan cuaca di lingkungan kita. Kamu dapat merasakan semakin panasnya suhu di sekitar kamu belakangan ini. Kedatangan musim hujan ataupun kemarau yang semakin tidak menentu dan tidak bisa diprediksi lagi.

Bagi petani, ketidakpastian musim hujan dan kemarau ini tentu sangat merugikan karena dapat mengganggu jadwal tanam dan panen. Saat musim hujan, bisa saja justru cuaca kering. Begitu juga sebaliknya, hujan lebat bisa saja turun saat musim kemarau. Ketidakpastian cuaca bisa mengganggu produksi tanaman dan mengurangi hasil panen. Turunnya produksi pertanian juga dapat mengganggu pasokan pangan yang dapat menyebabkan kekurangan pangan dan bahkan kelaparan.

Cuaca ekstrem juga makin sering kita dengar terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dan dunia. Curah hujan yang tinggi kerap terjadi yang dapat menyebabkan banjir dan bencana alam lain seperti tanah longsor. Sebaliknya, di wilayah lain justru mengalami kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan. Di beberapa tempat di dunia, seperti India, Pakistan, Amerika, dan Australia, gelombang panas yang ekstrem (panas yang melebihi normal) menjadi lebih sering terjadi.

Naiknya Permukaan Air Laut

Salah satu dampak pemanasan global adalah naiknya permukaan air laut (sea level). Naiknya permukaan air laut ini bisa disebabkan oleh dua faktor. Pertama, suhu atmosfer yang makin panas membuat volume air laut mengembang (bertambah) sehingga meningkatkan permukaan air laut. Kedua, suhu yang makin panas membuat es di kutub mencair sehingga menambah volume air laut dan permukaan air laut naik.

Diperkirakan ada beberapa pulau di wilayah pasifik akan tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Banjir rob (banjir akibat naiknya air laut ke daratan) di wilayah pesisir akan semakin sering terjadi. Rawa-rawa di pinggir laut (pantai) akan semakin banyak terbentuk. Perpindahan penduduk akibat wilayah daratannya yang dimasuki air laut juga akan terjadi yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi wilayah yang mengalami dampak tersebut.

Gangguan Ekologi

Perubahan musim dan suhu udara yang lebih tinggi bisa berpengaruh terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan. Spesies tumbuhan dan hewan yang tidak bisa bertahan terhadap perubahan musim dan suhu bisa mengalami kepunahan. Jika hewan dan tumbuhan yang punah ini merupakan sumber bahan makanan bagi manusia atau makhluk hidup lain, ancaman kekurangan pangan dan kelaparan pun mengemuka.

Di lain pihak, beberapa spesies lain yang tidak diharapkan mungkin bisa timbul. Spesies nyamuk penyebab penyakit bisa saja berkembang biak lebih baik dengan suhu yang lebih panas. Berkembangnya spesies penyebab penyakit ini bisa meningkatkan kasus penyakit dan meningkatkan risiko kesehatan dalam masyarakat.

Referensi:

Bob Foster, Akselerasi Fisika SMA/MA Kelas XI, Penerbit Duta

Penyebab Pemanasan Global

Sistem iklim secara alami dapat memanas dan mendingin sebagai respons terhadap perubahan faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal itu di antaranya:

  • komposisi atmosfer (peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca),
  • luminositas (tingkat kecerahan) matahari,
  • letusan gunung berapi, dan
  • variasi posisi bumi dalam orbit terhadap matahari.

Selain mendingin dan memanasnya sistem iklim secara alamiah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal sebagaimana disebutkan di atas, faktor utama yang diyakini oleh para ilmuwan sebagai faktor penyebab pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca, contohnya CO2, di atmosfer.


Photo by Chris LeBoutillier from Pexels

Peningkatan jumlah gas rumah kaca tidak lepas dari berbagai aktivitas yang dilakukan manusia. Gas rumah kaca banyak dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, asap yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik, kotoran ternak, dan pembangkit tenaga listrik.

Faktor utama yang diyakini oleh para ilmuwan sebagai faktor penyebab pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca, contohnya CO2, di atmosfer.

Dalam jumlah yang seimbang dan cukup, gas-gas rumah kaca pada dasarnya sangat berguna untuk menjaga panas di bumi yang memungkinkan keberlangsungan kehidupan dan makhluk hidup. Panas yang timbul di bumi berasal dari radiasi sinar matahari.

Radiasi sinar matahari ini sebagian dipantulkan kembali oleh atmosfer bumi dalam bentuk sinar inframerah dan sebagian diteruskan sampai ke permukaan bumi. Di permukaan bumi, radiasi yang sudah berubah menjadi panas diserap sebagian dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke atmosfer.

Sumber: globalweatherclimatecenter.com

Panas yang dipantulkan oleh bumi terperangkap di atmosfer bumi oleh gas-gas rumah kaca yang menimbulkan efek rumah kaca. Tanpa adanya panas yang terjadi melalui efek rumah kaca, suhu bumi akan terasa sangat dingin yaitu sekitar −18oC. Dengan suhu sedingin ini tentu sulit bagi makhluk hidup untuk bertahan hidup.

Gas-gas rumah kaca yang paling berperan dalam pemanasan global saat ini adalah:

  • karbon dioksida (CO2),
  • metana (CH4),
  • nitrogen oksida (NO), dan
  • kloro-fluoro-klorida (CFC).

Metana banyak dihasilkan dalam proses pertanian dan peternakan terutama dari kotoran ternak, nitrogen Oksida dihasilkan dari pupuk, dan CFC adalah gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan.

Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga dapat menyebabkan pemanasan global karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.

Referensi:

Bob Foster, Akselerasi Fisika SMA/MA Kelas XI, Penerbit Duta

Pemanasan Global

Pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) adalah dua istilah yang mendeskripsikan teramatinya peningkatan suhu rata-rata dalam jangka waktu seratus tahun terakhir dari sistem iklim bumi dan efek-efek yang terkait.

Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa sistem iklim bumi mengalami pertambahan panas. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2013, bukti-bukti tersebut di antaranya:

  • kenaikan suhu di daratan, lautan, dan atmosfer;
  • mencairnya es di kutub;
  • perubahan wilayah yang tertutup salju;
  • kenaikan permukaan air laut; dan
  • perubahan kuantitas uap air di atmosfer.

Berdasarkan beragam data ilmiah yang dikumpulkan IPCC, suhu rata-rata global permukaan bumi (daratan dan lautan) bertambah panas 0,85oC dalam kurun waktu 1880 sampai 2012.

Berdasarkan pengukuran satelit, suhu rata-rata di lapisan troposfer bawah, lapisan atmosfer paling bawah, meningkat antara 0,13oC dan 0,22oC per dekade sejak 1979. Masih dari data yang dihimpun IPCC dari berbagai sumber, tahun 2015 mencatat rekor tertinggi yang pernah dicapai dalam hal suhu rata-rata permukaan bumi dan kenaikan permukaan laut.

Photo by Tom Swinnen from Pexels

Secara lokal berdasarkan pengamatan sehari-hari, kamu juga bisa merasakan adanya perubahan iklim di wilayah kamu dan Indonesia. Dahulu, kita sering mendapat informasi bahwa Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau (panas). Musim hujan terjadi selama 6 bulan yaitu dari bulan oktober sampai bulan maret, sedangkan musim kemarau terjadi juga selama 6 bulan, yaitu dari bulan april sampai september.

Namun selama beberapa tahun terakhir, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, begitu juga sebaliknya, semakin tidak jelas. Kekeringan dan hujan deras dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal periodenya. Bencana banjir dan kekeringan juga kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.

Selain itu, kita juga merasakan suhu udara yang lebih panas pada siang hari saat cuaca sedang cerah atau musim kemarau. Sebaliknya, suhu udara juga terasa lebih dingin pada malam hari pada saat cuaca dingin atau musim hujan. Sebagimana yang disebutkan di atas, pada tahun 2017 suhu udara tercatat paling panas di antara tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, tahun 2019 diprediksi akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah (sumber: National Geographic).

Hal-hal di atas merupakan beberapa indikasi terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global sebagaimana yang sudah teramati secara ilmiah.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim

Dikutip dari wikipedia, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC = Intergovernmental Panel on Climate Change) adalah badan ilmiah dan antarpemerintah di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibentuk atas permintaan pemerintah negara-negara anggota dengan tujuan untuk menyediakan pandangan ilmiah dan objektif atas perubahan iklim dan dampak politik dan ekonomi.

Al Gore bersama Ketua IPCC menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2007 (sumber: royalcourt.no)

Organisasi ini pertama kali didirikan pada 1988 oleh dua organisasi PBB, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP), dan kemudian disahkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi 43/53. Keanggotaan IPCC terbuka untuk semua anggota WMO dan UNEP.

IPCC menghasilkan laporan yang mendukung Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang merupakan perjanjian internasional utama pada perubahan iklim. Tujuan utama dari UNFCCC adalah untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah gangguan antropogenik berbahaya (bahaya yang disebabkan oleh manusia) pada sistem iklim.

Laporan IPCC meliputi informasi ilmiah, teknis, dan sosial-ekonomi yang relevan untuk memahami dasar ilmiah dari risiko perubahan iklim yang disebabkan manusia, dampak potensial, dan pilihan untuk adaptasi dan mitigasi.

Ribuan ilmuwan dan ahli lainnya berkontribusi (atas dasar sukarela, tanpa bayaran dari IPCC) untuk menulis dan meninjau laporan, yang kemudian ditinjau oleh pemerintah. Laporan IPCC mengandung Ringkasan untuk pembuat kebijakan, yang tunduk pada persetujuan oleh delegasi dari semua pemerintah yang berpartisipasi. Aktivitas ini melibatkan pemerintah lebih dari 120 negara.

IPCC memberikan otoritas yang diterima secara internasional tentang perubahan iklim, menghasilkan laporan yang memiliki perjanjian ilmuwan iklim terkemuka dan konsensus pemerintah yang berpartisipasi. Hadiah Nobel Perdamaian 2007 diberikan kepada IPCC bersama-sama dengan Al Gore (mantan wakil presiden Amerika Serikat).

Protokol Kyoto

Berdasarkan siaran pers program lingkungan PBB (UNEP), Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990. Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim/UNFCC). Persetujuan ini dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penandatanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Beberapa peran Protokol Kyoto adalah sebagai berikut.

  • Merumuskan mekanisme dan target penurunan emisi secara transparan.
  • Mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca, yaitu Karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), sulfur heksafluorida (SF6), hidrofluorokarbon (HFC), dan perfluorokarbon (PFC) yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008 – 2012.
  • Setiap negara maju memiliki komitmen yang berbeda sesuai dengan tingkat emisinya pada tahun 1990.
  • Negara berkembang tidak memiliki obliogasi untuk menurunkan emisi.

Referensi: