Sains, Teknologi, dan Entrepreneurship

Benarkah sains tidak ada sangkut pautnya dengan kewirausahaan (entrepreneurship)? Bagaimana produk hasil riset dan inovasi bisa menjadi produk yang diproduksi massal? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang biasa mengemuka saat ada yang berusaha mengaitkan antara sains, teknologi, dan entrepreneurship.

Belum lama ini, penulis secara iseng mengapdet status di media sosial berbunyi “ternyata fisika dan entrepreneurship itu berkaitan erat lho. perkembangan teknologi tidak lepas dari dua faktor ini.” Seperti biasa status ini pun mendapat beberapa komentar. Komentar ini rata-rata mempertanyakan kaitan antara fisika atau secara umum sains murni (pure science) dengan entrepreneurship atau kewirausahaan.

Benarkah sains tidak berkaitan dengan Entrepreneurship?

Tanpa entrepreneurship, TV hasil dari riset tentang atom dan elektron hanya akan melengkapi koleksi dari museum atau hanya berupa pajangan saja di rak laboratorium universitas tanpa pernah diproduksi secara massal.

Selama ini memang sudah berkembang anggapan bahwa sains tidak ada kaitannya dengan entrepreneurship. Sains hanya berkutat dengan teori alam dan eksperimen-eksperimen untuk membuktikan teori-teori tersebut. Aktivitas ini dianggap tidak berkaitan dengan entrepreneurship yang berhubungan dengan kegiatan bisnis dan ekonomi.

Dalam buku-buku ajar sains dan teknologi juga tidak pernah menyinggung kaitan antara sains dan entrepreneurship. Materi entrepreneurship juga tidak diberikan atau bukan menjadi materi ajar bagi mahasiswa sains. Tapi sekali lagi, apakah keadaan ini membuktikan bahwa sains tidak ada kaitannya dengan entrepreneurship? Dan selanjutkah, apakah mahasiswa sains dan peneliti tidak perlu mempelajari materi tentang entrepreneurship?

Sebelumnya, mari kita menengok ke belakang untuk melihat bagaimana perkembangan sains dan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi yang kita nikmati saat ini merupakan dampak dan peran dari perkembangan sains. Kita ambil contoh teknologi televisi. Teknologi televisi tidak akan ada tanpa didahului oleh riset dan pengembangan sains yang melandasinya. Televisi mulanya dibuat dari tabung CRT (cathode ray tube). Tabung CRT dibuat berdasarkan perkembangan teori tentang atom dan elektron yang dicetuskan oleh beberapa fisikawan terkemuka seperti JJ Thompson, Rutherford, dan Milikan.

Dari teori tentang atom dan partikel subatomik ini selanjutnya menjadi dasar pengembangan teknologi yang diwujudkan dalam bentuk perangkat berupa televisi. Teknologi ini terus berkembang mengikuti pengembangan teori baru dalam sains. Perangkat televisi hanya akan menjadi sebuah model atau prototype jika tidak ada orang yang berusaha mengkomersilkannya dan memproduksinya secara masal. Dengan produksi masal, perangkat TV hasil pengembangan sains ini bisa dinikmati oleh banyak orang.

Apa yang berusaha disampaikan di atas adalah bagaimana sebuah teori sains yang diwujudkan dalam bentuk perangkat hanya bisa dinikmati manfaatnya setelah melalui produksi masal dan proses komersialisasi. Diperlukan pula orang-orang yang memiliki visi komersial yang mampu melihat peluang pasar bagi produk hasil riset dan teknologi. Di sinilah sisi entrepreneurship itu berperan.

Hanya dengan visi entrepreneurship pula, produk seperti televisi mencapai bentuknya menjadi televisi dalam bentuk yang kompak seperti yang kita lihat saat ini. TV juga mengalami beberapa pengembangan dan penambahan fungsi dari yang hanya bisa menangkap siaran melalui antena saja, hingga bisa terkoneksi dengan perangkat lain bahkan dengan internet. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa entrepreneurship saja yang mampu melihat peluang pasar dan terpacu untuk selalu melakukan pengembangan produk menjadi lebih baik.

Tanpa visi entrepreneurship dan sense of business yang kuat, tidak ada hasil teknologi yang dapat mewarnai dan melengkapi kehidupan manusia saat ini. Kita lihat saja berbagai produk yang biasa kita gunakan sehari hari seperti komputer dan ponsel, semuanya merupakan hasil dari riset yang juga mampu memenuhi sisi komersial. Tidak heran produk-produk ini bisa menjadi bagian dari kehidupan manusia dan juga bagian dari bisnis yang menghasilkan banyak uang.

Jadi sepertinya sudah mulai jelas kaitan antara sains dan entrepreneurship, bukan? Tanpa entrepreneurship, TV hasil dari riset tentang atom dan elektron hanya akan melengkapi koleksi dari museum atau hanya berupa pajangan saja di rak laboratorium universitas tanpa pernah diproduksi secara massal.

Pentingnya skill Entrepreneursip bagi saintis dan engineer

Pentingnya visi entrepreneurship dalam sains sangat disadari oleh komunitas saintis dan engineer. Karenanya sebuah asosiasi fisikawan internasional di bawah naungan Institute of Physics perlu membuat suatu wadah yang menjembatani sains dan entrepreneurship. Untuk tujuan ini, Institute of Physics yang bermarkas di London secara rutin mengadakan workshop entreprenial skill tiap tahunnya. Event ini diadakan bagi saintis dan engineer yang ingin membekali diri dengan skill kewirausahaan atau entrepreneurship. Event ini biasanya diadakan di sebuah fasilitas science di science park Trieste Italia. Di Eropa, fasilitas science dan technology memang sangat lengkap yang memungkinkan pengembangan sains dan teknologi yang cepat.

Produk yang dihasilkan dari pengembangan science dan teknologi bisa disebut sebagai science-based product atau produk berbasis sains. Orang yang mengembangkan bisnis dengan pola seperti ini bisa disebut sebagai teknopreneur atau sciencepreneur.

Lembaga atau asosiasi saintis seperti Institute of Physics ini memang berkepentingan dengan pengembangan sains dan juga sisi komersialnya melalui skill entrepreneurshipnya. Lembaga semacam ini bisa menjadi wadah bagi saintis yang juga ingin mengembangkan hasil risetnya menjadi produk yang memiliki sisi komersial. Tentu para peneliti ini tidak ingin membuat atau mengembangkan produk yang hanya menjadi pajangan di universitasnya tanpa bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan bahkan bisa menjadi produk komersial.

Produk hasil riset dan inovasi yang memiliki sisi komersial tentu bisa mendatangkan keuntungan finansial bagi pembuatnya. Peneliti tentu ingin mencapai tujuan ini, produknya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan juga mendatangkan keuntungan finansial. Keuntungan finansial yang bisa diperoleh oleh saintis yang terlibat dalam pengembangan ilmunya dalam membuat produk bisa berupa royalti dari paten dan keuntungan penjualan produknya.

Peneliti yang berhasil membuat produk dapat beralih fungsi menjadi pemilik bisnis yang memproduksi massal produk yang dibuatnya. Produknya tidak hanya berupa barang tapi bisa juga berupa jasa. Perusahaan yang dibuat dari produk hasil riset di sebuah lembaga penelitian pemerintah atau di bawah naungan universitas dapat dilakukan dengan melakukan spin-off. Dari penelitian yang dibiayai pemerintah atau sponsor, peneliti beralih dengan membiayai sendiri proses produksi massal yang dilakukan perusahaannya melalui berbagai cara misalnya pinjam di bank atau kepemilikan saham. Produk yang dihasilkan dari proses semacam ini bisa disebut sebagai science-based product atau produk berbasis sains. Orang yang mengembangkan bisnis dengan pola seperti ini bisa disebut sebagai teknopreneur atau sciencepreneur.

Sains dan Entrepreneurship: Contoh Kasus

Quantum information processing and communication sendiri merupakan bidang riset yang bisa digolongkan dalam quantum computing, sebuah bidang yang mencoba mengembangkan metode komputasi berbasis kuantum yang tujuan akhirnya membuat komputer super cepat dengan berbasis kuantum.

Sekarang mari kita lihat beberapa contoh bisnis berbasis sains ini melalui spin-off dari lembaga penelitian atau universitas. Contoh ini diambil dari kasus yang ada di luar negeri. Untuk beberapa contoh yang ada di Indonesia kita bisa melihat kasus seperti mobil listrik yang coba dipopulerkan oleh menteri BUMN Dahlan Iskan dan mobil esemka yang dipopulerkan oleh Jokowi saat masih menjabat walikota Solo.

QZN Technology Ltd adalah sebuah perusahaan berbasis sains dan teknologi yang melakukan riset dalam bidang quantum information processing and communication. Quantum information processing and communication sendiri merupakan bidang riset yang bisa digolongkan dalam quantum computing, sebuah bidang yang mencoba mengembangkan metode komputasi berbasis kuantum yang tujuan akhirnya membuat komputer super cepat dengan berbasis kuantum.

QZN Technology Ltd ini berbasis di afrika selatan yang didirikan oleh orang-orang berlatar belakang pendidikan fisika, sebagian sudah lulus dan bergelar doktor dan sebagian sedang menyelesaikan program doktornya. QZN berdiri pada tahun 2010 sebagai spin-off dari riset di Centre for Quantum Technology, grup riset di School of Physics University of KwaZulu-Natal

Salah satu proyek prestisius dari QZN technology ini adalah mengamankan sistem komunikasi dalam piala dunia 2010 FIFA dengan membangun QuantumStadium. Salah satu layanan dari QZN Technology ini adalah quantum cryptography for network security, pengamanan jaringan komputer menggunakan metode kriptografi kuantum. Metode ini merupakan pengembangan terbaru dalam fisika kuantum untuk membangun jaringan komputer yang aman dan tidak mudah ditembus.

Dengan menggunakan layanan dari QZN Technology Ltd, jaringan komputer yang digunakan dalam piala dunia 2010 di Afrika Selatan terjaga keamanannya. Selain produk dalam bentuk QuantumStadium yang dipakai selama perhelatan piala dunia 2010, QZN Technology saat ini juga sedang mengembangkan QuantumCity Initiative yang berusaha membangun jaringan aman yg menghubungkan seluruh kota.

QuantumStadium merupakan salah satu sistem komunikasi yang menggunakan keamanan berbasis kriptografi kuantum yang dipakai selama perhelatan Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Ini merupakan contoh nyata dan sekaligus juga mengukuhkan kemampuan produk dari hasil riset dalam bidang fisika kuantum. Perusahaan QZN Technology ini juga terus berkembang dengan mencoba membuat produk dan layanan berbasis quantum information processing and communication dalam bentuk hardware dan software. QZN Technology Ltd bisa jadi contoh model bisnis berbasis sains dengan riset sebagai pendorong pengembangan bisnisnya.

sumber:

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/12/25/sains-teknologi-dan-entrepreneurship-519408.html

One thought on “Sains, Teknologi, dan Entrepreneurship

  1. bener juga sih, buat apa pinter sains tapi nggak bisa memasarkannya?
    Gila juga sih quantum computing, nggak kebayang gimana cepatnya. Bisa buat rendering nggak ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s